08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Proyeksi Tantangan Industri Pangan 2021

Proyeksi Tantangan Industri Pangan 2021

Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup berat dan penuh tantangan bagi industri pangan olahan, terutama karena pandemi COVID-19 yang melanda. Meskipun demikian, para pelaku usaha tetap optimis bahwa industri ini akan tetap tumbuh. Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman mengatakan, pertumbuhan industri pangan olahan pada tahun 2021 diperkirakan bisa tumbuh antara 5-7%. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tumbuh mencapai hingga 6%, merujuk kepada proyeksi International Monetary Fund (IMF). Selain itu, optimisme GAPMMI juga berdasar pada tren penjualan ekspor pangan yang cukup baik di masa pandemi. 

Adhi Lukman menilai, kondisi belum akan normal seperti sebelum pandemi COVID-19 menyerang. "Tahun depan belum normal sekali, kami melihat mungkin baru 2022. Tahun depan kami masih realistis karena ada ekspor yang masih bertumbuh," ungkapnya dalam MarkPlus Conference 2021, akhir tahun lalu. Meski begitu, kinerja industri pangan pada tahun depan bukannya tanpa tantangan. Pertumbuhan industri pangan olahan juga akan bergantung pada konsumsi kelas menengah dan atas. Berdasarkan catatannya, kontribusi kedua segmen tersebut mencapai 82% dalam konsumsi pangan olahan nasional. Pada kuartal II dan kuartal III lalu, konsumsi pangan olahan kedua segmen ini masih rendah sehingga sektor ini hanya tumbuh tipis pada saat itu. Dugaan Ketua Umum GAPMMI, mungkin ini dikarenakan ketakutan kelas menengah dan atas untuk berbelanja di masa pandemi COVID-19.

Di sisi lain, terdapat pula tantangan daya beli pada segmen masyarakat menengah bawah. Oleh karenanya, GAPMMI berharap pemerintah bisa terus konsisten merealisasikan program-program insentif untuk mengdongkrak daya beli masyarakat menengah bawah.

Adapun tantangan lain yang harus dihadapi adalah kelangkaan bahan baku. Salah satunya adalah stok gula rafinasi yang diperkirakan hanya cukup hingga akhir Januari 2021 dan harus segera dilakukan impor untuk memenuhi kebutuhan industri. Menanggapi hal ini, pemerintah telah mewacanakan untuk mengimpor 1,2 juta gula rafinasi guna memenuhi kebutuhan tersebut. Wacana ini disebut dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) sejumlah kementerian dan lembaga. Pernyataan pemerintah tersebut sekaligus menjadi jawaban atas stok gula yang kian menipis di kalangan pengusaha serta kekhawatiran dari petani tebu lokal.

Pernyataan pemerintah ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Perdagangan, Fithra Faisal Hastiadi. Ia menyebut, ada wacana untuk mengimpor 1,2 juta ton gula bahan baku untuk industri yang muncul dalam rakortas sejumlah kementerian dan lembaga (K/L), di antaranya: Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Bulog, dan Satgas Pangan. Menurut Fithra, perkiraan 1,2 juta ton itu muncul karena melihat kebutuhan gula bahan baku pada tahun ini yang ditaksir sebesar Rp2,7 juta ton. Sementara, produksi gula dalam negeri pada tahun depan ditargetkan mencapai 2,5 juta ton.

 

INFO GAPMMI

GAPMMI Tax Talk “Kebijakan Pajak dalam Menunjang Pemulihan Ekonomi Nasional”

Menjelang akhir tahun 2020 lalu, GAPMMI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI dan APINDO mengadakan dialog virtual yang bertajuk Tax Talk Kebijakan Pajak dalam Menunjang Pemulihan Ekonomi Nasional”, dengan subtema “Pajak untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia dan Manfaat bagi Pelaku Usaha, Industri dan Retail”. Mengawali acara, Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman memberikan sambutan singkat dan dilanjutkan oleh Wakil Ketua Umum APINDO, Suryadi Sasmita.

Setelah itu, Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo didampingi oleh Direktur Peraturan Pajak I, Arif Yanuar dan Direktur  Penyuluhan, Pelayanan dan Humas, Hestu Yoga Saksama, memberikan sambutan kunci dan memberikan penjelasan terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, klaster kemudahan berusaha, di bidang perpajakan. Selain itu, beliau memaparkan juga rencana strategis DJP 2020- 2024 serta mengajak para pelaku usaha untuk bersama-sama memperkuat perekonomian Indonesia melalui perpajakan.
 

Indonesia Food Innovation (IFI)

Kementerian Perindustrian menginisiasi program Indonesia Food Innovation (IFI) bagi industri kecil dan menengah (IKM) pangan dengan melibatkan akademisi, praktisi, dan industri pangan. Melalui pembinaan dan pendampingan intensif di sisi teknis dan bisnis oleh para pakar profesional, para peserta program IFI 2020 diharapkan bisa meningkatkan kapabilitasnya dalam mengembangkan industrinya. IFI merupakan program akselerasi bisnis yang ditujukan bagi industri kecil menengah (IKM) pangan yang mempunyai inovasi produk dan/atau proses, serta menggunakan sumber daya lokal sebagai bahan baku utamanya. 

Dari total 2.048 pendaftar, terpilih 40 IKM pangan yang terdiri dari 10 kategori produk antara dan 30 kategori produk jadi. Sebanyak 40 IKM ini telah mengikuti food camp pada bulan November, dan mengikuti beberapa tahapan penilaian lainnya selama food camp tersebut. Selanjutnya, dilakukan beberapa tahap penilaian hingga menjadi 20 IKM terpilih dan dikerucutkan menjadi 3 IKM terbaik di masing-masing kategori. Kemudian, peserta melanjutkan presentasi tentang rencana akselerasi bisnis yang dinilai oleh para pakar profesional di bidang pangan. ”Ketiga IKM tersebut mendapat hadiah berupa uang pembinaan dan food business scale up yang meliputi pelatihan, pengawasan, dan fasilitasi pada tiga aspek yaitu manajemen, legal dan berjejaring. Pelatihan lanjutan tidak hanya diberikan kepada tiga IKM terbaik, tetapi juga diberikan kepada 20 IKM terbaik yang mendapatkan berbagai prioritas untuk mengikuti akselerasi lanjutan pengembangan bisnis melalui pelatihan  dan pengawasan eksklusif scaling up usaha.

Selanjutnya, mereka memperoleh fasilitasi sertifikasi HACCP atau sertifikat lain yang dibutuhkan dalam peningkatan daya saing serta mengikuti berbagai macam acara pameran, investor matchmaking, dan fasilitasi keanggotaan perdagangan niaga global. Kemenperin mencatat, jumlah IKM pangan saat ini mencapai 1,86 juta unit usaha atau 43,41% dari total unit usaha IKM di Indonesia.

produk IKM pangan Indonesia terbuka luas untuk dapat memenuhi pasar dalam negeri dan juga untuk masuk ke pasar ekspor. Oleh karenanya, IKM pangan diharapkan telah memiliki kesiapan dan strategi yang tepat dalam meningkatkan kualitas, membangun branding, melakukan adaptasi, memperkuat inovasi, serta mampu dalam membaca tren dan kebutuhan pasar saat ini.

Acara pemberian penghargaan IFI 2020 ini juga diisi dengan talkshow yang membahas tentang investasi dan juga sesi motivasi yang memberikan pengetahuan tambahan kepada para peserta dalam melakukan scaling-up industri mereka. Narasumber talkshow yang hadir yaitu Direktur PT Lima Ventura, Yan Rezky Fahza dan CEO Bizhare, Heinrich Vincent selaku investor serta elaku pengusaha pangan olahan yang berkembang melalui investasi dari crowdfunding platform Bizhare. Selain itu, hadir pula Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman yang berbagi pengalaman dan motivasi membesarkan bisnis di bidang industri pangan.


Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition

Trade Expo Indonesia ke-35 Virtual Exhibition (TEI-VE) 2020 telah sukses dilangsungkan sebagai pemeran dagang virtual terbesar di Indonesia di tengah pandemi COVID-19. TEI-VE 2020 yang berlangsung selama 10-16 November 2020 dan berakhir masa penayangan virtual showcase-nya kemarin (10/12), sukses membukukan total nilai transaksi prospektif sebesar USD 1,2 miliar. Total tersebut merupakan capaian yang tercatat per 10 Desember 2020 pukul 13.25 WIB dan telah melampaui target yang ditetapkan sebesar USD 1 miliar. selama penyelenggaraannya, TEI ke-35 sukses menghadirkan 690 exhibitors atau pelaku usaha sukses dan sebanyak 7.459 buyers. Para buyers tersebut meliputi 3.352 buyers dari 127 negara mitra dagang dan 4.107 buyers lokal.

15 produk ekspor yang mencatat transaksi terbesar selama TEI ke-35, adalah produk palm oil USD 362,95 juta (33,23 persen); kertas dan produk kertas USD 244 juta (22,34 persen); makanan minuman dalam kemasan USD 157,55 juta (14,42 persen); produk kopi USD 78,14 juta (7,15 persen); kendaraan dan suku cadangnya USD 52,36 juta (4,79 persen); industri strategis USD 50,01 juta (4,58 persen); bumbu masak dan rempah USD 25,25 juta (2,31 persen); produk kayu ringan USD 11,47 juta (1,05 persen); furnitur kayu USD 9,97 juta (0,91 persen); produk perikanan USD 9,24 juta (0,85 persen); furnitur rumah tangga USD 9,22 juta (0,84 persen); rempah-rempah USD 9 juta (0,82 persen); furnitur rotan USD 8,22 juta (0,75 persen); alas kaki USD 7 juta (0,64 persen); serta kerajinan kayu dan batu USD 6 juta (0,55 persen).


IK-CEPA

Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama Indonesia-Korea Comprehensif Economic Partnership Agreement. Setelah menandatangani perjanjian tersebut bersama Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi (MOTIE) Korea Selatan Sung Yun-mo, Mendag Agus menyampaikan bahwa perjanjian IK-CEPA hari ini merupakan tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan mengingat Korea Selatan semakin tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai produk baru di ASEAN. Penandatanganan ini menambah panjang daftar capaian Kementerian Perdagangan tahun ini di bidang kerja sama perdagangan internasional, dari dimulainya implementasi Indonesia–Australia CEPA; ASEAN–Hong Kong, China Free Trade Agreement (AHKFTA); serta ASEAN–Hong Kong, China Investment Agreement (AHKIA); kemudian ditandatanganinya Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); lalu ditetapkannya oleh Komisi VI DPR RI agar Indonesia– Mozambique PTA dan Protocol to Amend ASEAN–Japan EPA diratifikasi dengan Peraturan Presiden; kemudian Trade Policy Review ke-7 di World Trade Organization (WTO); dan kini penandatanganan IK-CEPA.
 

Webinar BPOM- KPK

Pengurus GAPMMI menghadiri Webinar yang diadakan oleh BPOM dan KPK dengan tema “Memperkuat Sinergi dan Penggalangan Komitmen Antara Badan POM, KPK dan Pelaku Usaha Melalui Pencantuman Pesan Anti Korupsi Pada Label Obat dan Makanan Untuk Indonesia Sehat dan Unggul”. Pada kesempatan tersebut, Handito Hadi Joewono yang hadir mewakili GAPMMI juga turut menandatangani bersama komitmen anti korupsi.
 

GAPMMI- Calon Atase Perdagangan

Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman dan 2 Pengurus GAPMMI turut berpartisipasi aktif memberikan pembekalan untuk para calon Atase Perdagangan yang akan bertugas di luar negeri. Turut hadir mendampingi Ketua Umum di Kementerian Perdagangan RI adalah Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri GAPMMI, Johan Muliawan dan juga tim Komite Program Keberlanjutan dan Dampak/ Kontribusi Sosial GAPMMI, Christianta Sitepu.
 

Rapat Koordinasi Kemenperin

Wakil Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri GAPMMI, Lena Prawira, menjadi narasumber dalam Rakor Kerjasama Internasional Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian RI yang diadakan di Hotel Aston Kuta, Bali.