08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Peningkatan Kerja Sama Perdagangan & Investasi RI-Rusia-EEC

Peningkatan Kerja Sama Perdagangan & Investasi RI-Rusia-EEC


Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi melakukan kunjungan ke St. Peterseburg, Rusia untuk memperkuat hubungan dagang dan investasi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Eurasia. Pertemuan maraton dilakukan dengan sejumlah menteri, yaitu Menteri Perdagangan dan Industri Rusia, Denis Manturov; Menteri yang bertanggung jawab atas Integrasi dan Makroekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev; serta Menteri yang bertanggung jawab atas Perdagangan Komisi Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Comission/EEC), Andrey Slepnev.

Beliau membidik kerja sama perdagangan dan investasi lebih besar dari Rusia dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU). Negara-negara EAEU adalah Rusia, Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, dan Kazakhstan. Pertemuan berlangsung di sela agenda Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPEIF) 2021 di St. Petersburg, Rusia.

Sebagai informasi, pada 2020, nilai total perdagangan Indonesia dengan Rusia tercatat sedikit menurun menjadi sebesar USD 1,93 miliar dengan ekspor Indonesia ke Rusia sebesar USD 970 juta dan impor Indonesia dari Rusia sebesar USD 960 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia surplus USD 10 juta dari Rusia.

Di tahun 2019, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 2,07 miliar dengan ekspor Indonesia ke Rusia sebesar USD 864,08 juta dan impor Indonesia dari Rusia sebesar USD 1,20 miliar. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Rusia antara lain minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya (USD 499,9 juta), kopra (USD 65,6 juta), kopi (USD 36,7 juta), karet alam (USD 32,3 juta), dan mentega kakao (USD 32,3 juta).

Kepada Menteri Glazyev, Mendag Lutfi menegaskan akan menjalin kemitraan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan antara Indonesia-Rusia dan antara Indonesia dengan negara-negara Eurasia yang lain. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menawarkan minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya.

“Mekanismenya bisa dengan mendatangkan produknya secara langsung atau bisa juga dengan membangun pabrik pengolahan untuk memproduksi produk CPO dan turunannya, seperti minyak goreng atau fat oil turunan lain untuk berbagai kebutuhan industri di kawasan Eurasia,” tutur Mendag Lutfi.

Indonesia juga berminat mengirimkan sumber daya manusia (SDM) untuk belajar mengenai teknologi pengolahan gas dan pembangkit listrik. Setelah itu, mereka akan diminta untuk mengembangkannya di daerah-daerah terpencil di Indonesia yang membutuhkan. Ini merupakan kebutuhan Indonesia untuk pengembangan SDM sekaligus infrastruktur.

Mendag juga menyampaikan perhatian Indonesia mengenai aturan EAEU terkait pembatasan kandungan kontaminan untuk minyak nabati yang cenderung lebih ketat ketimbang negara tujuan ekspor lainnya seperti Uni Eropa. Selanjutnya pada pertemuan dengan Menteri Slepnev, Indonesia dan EAEU sepakat untuk meningkatkan hubungan dagang kedua belah pihak. Kedua Menteri juga sepakat untuk segera menyelesaikan Joint Feasibility Study FTA Indonesia-EAEU.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono menyampaikan, Joint Feasibility Study Group (JFSG) Indonesia dan EAEU perlu segera diselesaikan sebagai tindak lanjut dari pertemuan kedua kepala negara di sela-sela ASEAN-Russia Summit di Sochi pada bulan Mei 2016.

Total perdagangan Indonesia-EAEU pada 2020 tercatat sebesar USD 2,25 miliar. Ekspor Indonesia ke EAEU sebesar USD 1,00 miliar dan impornya USD 1,25 miliar. Komoditas ekspor Indonesia ke EAEU yaitu antara lain minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya (USD 431,4 juta), kopra (USD 67,2 juta), kopi (USD 36,7 juta), karet alam (USD 32,3 juta), dan mentega kakao (USD 32,3 juta).