08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Mewujudkan Industri Agro Berkelanjutan dan Berdaya Saing Tinggi

Mewujudkan Industri Agro Berkelanjutan dan Berdaya Saing Tinggi


Pada Triwulan I Tahun 2021, industri berbasis agro mampu tumbuh sebesar 0,38%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan sektor industri non-migas yang masih terkontraksi sebesar -0,71% di tahun yang sama. Sektor industri berbasis agro memberikan kontribusi 50,78% terhadap total PDB non-migas pada Triwulan I Tahun 2021, merupakan yang terbesar bila dibandingkan sektor-sektor manufaktur lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro, Mohammad Ari Kurnia Taufik yang membawakan sambutan Dirjen Industri Agro dalam Rapat Kerja Direktorat Jenderal Industri Agro Tahun 2021. “Dari sisi ekspor, pada triwulan I Tahun 2021 industri berbasis agro membukukan nilai sebesar USD 14,31 miliar, atau memberikan kontribusi 29,26% terhadap total ekspor industri pengolahan. Dengan nilai impor sebesar USD 4,50 miliar, pada triwulan I Tahun 2021 terdapat surplus neraca perdagangan sektor industri agro sebesar USD 9,80 miliar,” tuturnya pada Rapat Kerja yang diselenggarakan pada 17-19 Juni 2021 lalu.

Rapat ini diadakan dengan tujuan menjaga kesinambungan kolaborasi antar stakeholder terkait dan dalam upaya menyusun serta mengembangkan strategi pertumbuhan dan pengembangan industri agro nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Mengingat kondisi pandemi COVID-19 yang masih belum mereda hingga saat ini, raker ini berlangsung secara hibrida, di mana sebagian peserta hadir secar fisik di lokasi acara dan sebagian lagi hadir secara daring.

Dalam kesempatan ini, disampaikan pula dorongan untuk industri agar dapat bertransformasi mengintegrasikan dunia digital dan lini produksi di industri menuju peningkatan otomatisasi, machine-to-machine dan komunikasi human-to-machine, artificial intelligence, serta pengembangan teknologi berkelanjutan. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan inovasi, mengurangi biaya produksi serta meningkatkan ekspor produk dalam negeri. Kementerian Perindustrian telah menyusun inisiatif “Making Indonesia 4.0” untuk mengimplementasikan strategi dan peta jalan Fourth Industrial Revolution (4IR) di Indonesia.

Peta Jalan Making Indonesia 4.0 memberikan arah dan strategi yang jelas bagi pergerakan industri Indonesia di masa yang akan datang.  Sektor industri agro, khususnya industri pangan, menjadi salah satu fokus dalam inisiatif Making Indonesia 4.0 setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar. Industri 4.0 kedepannya diharapkan dapat diterapkan pada sektor lainnya selain pangan.

Sebagai salah satu  narasumber dalam Rapat Kerja Ditjen Industri Agro, GAPMMI yang diwakili Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri, Johan Muliawan,  menyampaikan beberapa usulan untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional, sebagai berikut:

  1. PPN barang konsumsi ditanggung Pemerintah dalam kurun waktu sampai pemulihan ekonomi selesai, untuk menggairahkan perekonomian Indonesia.
  2. Neraca Komoditas sesuai PP 28/2021 (UU Cipta Kerja 11/2020) bisa dilaksanakan secara efektif, dan terkoordinasi dalam SIINAS, sehingga bahan baku industri mamin bisa tersedia dengan cukup, kompetitif dan sesuai parameter yang dibutuhkan industri.
  3. Perubahan PP 39/2021 tentang Jaminan produk Halal. Secara khusus prasyarat MRA yang wajib G to G, menjadi antar Lembaga Sertifikasi Halal. Juga percepatan sistem Sertifikasi halal yang memadai dalam mencapai target tahun 2024 wajib Halal.
  4. Revitalisasi SisLogNas agar biaya logistik bisa turun dan bersaing dengan negara tetangga ASEAN (minimal).
  5. Tidak adanya aturan yang akan menurunkan daya saing industri mamin yang akhirnya menggangu pertumbuhan industri. Misal: wacana cukai pemanis, cukai plastik kemasan, Perda Sumber Daya Air, dll.
  6.  Menjadikan Halal sebagai comparative advantage dalam persaingan global. Dan merebut peringkat 1 Halal Food dalam Global Islamic Economy Report (saat ini Peringkat 4 dalam GIE 2020/2021 setelah Malaysia, Singapore dan UAE).
  7. Meningkatkan peringkat Halal Food GIE melalui perbaikan pencatatan data ekspor impor Halal di PEB serta upaya masuk sebagai Komite GIE. Bila peringkat GIE naik, maka kepercayaan pembeli global terhadap produk Indonesia akan meningkat.
  8. Vaksinasi bagi karyawan dan pekerja industri mamin dipercepat karena industri mamin menjadi penyangga dalam ketersediaan pangan yang aman, bermutu dan mendukung kesehatan masyarakat.