08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Tanggapan GAPMMI Terkait Kemasan Berkelanjutan

Tanggapan GAPMMI Terkait Kemasan Berkelanjutan

GAPMMI diminta menjadi pembicara pembuka dalam Workshop Peran Industri Makanan dan Minuman dalam Mengurangi Sampah Plastik melalui Penerapan Kemasan Berkelanjutan di Jawa Barat yang diadakan oleh CSEAS. Dalam kesempatan tersebut, Sekjen GAPMMI, Indrayana memberikan sambutan dan menyampaikan beberapa poin penting mewakili Ketua Umum, sebagai berikut:

  • Industri pangan memegang peranan penting dalam rantai pasok dan ketersediaan pangan di Indonesia. Pengeluaran rata-rata penduduk per kapita untuk makanan total sebesar 49.22%, dan Pangan olahan sebesar 16.87% (BPS, Maret 2020). Demikian juga dalam perekonomian, kontribusi industri pangan terhadap PDB sektor industri non-migas sebesar 38.29%. Kendati demikian, di tengah pandemi COVID-19, masih bisa tumbuh sebesar 1.58%.
  • Selain melayani permintaan domestik, industri mamin sudah menjadi bagian dari GVC. Akhir-akhir ini, variasi permintaan dan diversifikasi pangan olahan terus meningkat di pasar global. Meskipun dalam masa pandemi, ekspor industri mamin meningkat sebesar 14.4% pada tahun 2020 menjadi sebesar 31.085,9 miliar USD.
  • Tentu saja, permintaan yang terus meningkat harus disertai ketersediaan bahan baku, bahan penolong, termasuk bahan kemasan pangan seperti plastik, dan lain-lain. Harus disiapkan perencanaan yang baik agar ketersediaannya berkelanjutan dan menunjang pertumbuhan industri.
  • Dalam konteks diskusi kali ini, keberlanjutan kemasan pangan perlu didiskusikan lebih baik, melibatkan semua pemangku kepentingan dan perlu dilakukan pemetaan dari semua aspek. Kemasan pangan berkelanjutan dibutuhkan agar ada inovasi kemasan dan pengemasan untuk (i) memastikan keamanan pangan (ii) mengurangi kehilangan pangan, (iii) melakukan manajemen penanganan limbah pangan, dan memecahkan masalah jangka panjang dari penumpukan sampah kemasan terhadap lingkungan, (iv) Kemasan pangan berkelanjutan menjadi sarana komunikasi dengan konsumen untuk bisa secara mudah menentukan pilihan-pilihan yang sesuai, dengan nilai keberlanjutan dan (v) bila dikaitkan dengan penerapan industri 4.0, kemasan pangan bisa menjadi sarana ketertelusuran produk dari hulu ke hilir.
  • Data INAPLAS menyatakan konsumsi plastik Indonesia tahun 2019 mencapai 6 juta ton.
  • Konsumsi Indonesia relative renah namun maslah sampah plastic semakin rumit, penuh regulasi yang dianggap belum memadai serta belum sesuai dalam menunjang tata kelola yang baik. Inilah tantangan lain di Indonesia.
  • Ditambah lagi, selama pandemi COVID-19, penggunaan kemasan plastic sekali pakai semakin meningkat karena alasan keamanan pangan. Sehingga keberlanjutan program “Kemasan Pakai Ulang (reusable plastic or container)” menjadi tantangan berat, sebaliknya plastik sekali pakai semakin menumpuk.