08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Ancaman Kelangkaan Bahan Baku di Tengah Geliat Industri Pangan

Ancaman Kelangkaan Bahan Baku di Tengah Geliat Industri Pangan

Perekonomian Indonesia mulai menunjukkan tren positif seiring dengan melandainya kasus pandemi COVID-19 dan pelonggaran kebijakan pemerintah terkait mobilitas. Ramadan dan Idul Fitri tahun ini membuat roda ekonomi kembali melaju lebih cepat setelah dua tahun melambat akibat pandemi. Diprediksi nilai perputaran uang selama masa lebaran berpotensi lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Tak dapat dimungkiri bahwa Ramadan dan Idul Fitri menjadi momentum daya ungkit ekonomi

yang paling besar di Indonesia. Hal ini dikarenakan meluasnya persebaran perayaan yang tak terbatas pada wilayah tertentu, tetapi juga hampir di seluruh pelosok negeri. Kebijakan pelonggaran mobilitas membawa angin segar untuk semua pihak, terutama sektor industri manufaktur, perdagangan ritel, dan bisnis pariwisata yang terkapar tak berdaya selama dua tahun terakhir.

Namun di tengah kebangkitan ekonomi tersebut, ada bayang-bayang kelangkaan bahan baku khususnya di sektor industri pangan. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyatakan adanya kebijakan India melarang ekspor gandum menjadi pukulan berat bagi industri pangan. Pasalnya, saat ini India tengah menjadi harapan Indonesia untuk mendapatkan pasokan gandum lantaran impor gandum dari Ukraina juga terkendala konflik Rusia- Ukraina. “Begitu ada larangan India, langsung terjadi kenaikan harga lagi yang melonjak kira-kira 6% dari harga gandum dunia dan ini merupakan pukulan yang cukup berat bagi industri pangan pengguna gandum,” mengutip pernyataan Ketua Umum GAPMMI, Adhi S Lukman. Larangan ekspor gandum India dapat menjadi ancaman serius terhadap stabilitas pangan dalam negeri.

Industri pangan dalam negeri sudah mulai merasakan dampak kenaikan bahan baku makanan mulai akhir tahun 2021 hingga awal 2022. Diikuti perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan kemudian diikuti dengan larangan ekspor gandum India. Kondisi tersebut memaksa produsen mau tidak mau harus mencari alternatif pasokan dari tempat lain seperti Amerika, Kanada, Argentina, dan lainnya di mana dari segi harga akan jauh lebih mahal. Hal tersebut tentunya memaksa beberapa produsen terpaksa menaikkan harga produk pangan seperti biskuit, mi, dan roti.

Meski produsen pangan khususnya pengguna gandum beberapa waktu telah berupaya berinovasi memanfaatkan bahan baku lokal seperti tepung tapioka, sagu, sorgum, dan tepung lainnya. Sudah banyak perusahaan yang melakukan inovasi untuk subtitusi tepung terigu, namun karena karakteristik tepung berbeda-beda, tidak bisa semua otomatis digantikan. Produsen juga perlu mempertahankan mutu produk, sehingga ada keterbatasan substitusi dalam penggunaannya. Dalam kondisi ini, kehadiran negara diperlukan untuk dapat melakukan pembicaraan antara pemerintah kedua negara. Selain itu, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat terutama kelas bawah mengingat kondisi harga pangan yang sedang mengalami kenaikan. Pemerintah juga harus bijak mengulas regulasi- regulasi biaya tambahan sehingga para produsen/industri tidak terbebani sehingga kenaikan harga jual ke masyarakat tidak meningkat terlampau tinggi.