08119322626/27   gapmmi@cbn.net.id  

×

Tantangan Industri Pangan 2024

Tantangan Industri Pangan 2024

Photo by Jack Sparrow : https://www.pexels.com/photo/couple-buying-meat-at-a-supermarket-4199238/

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman memperkirakan, industri pangan tidak akan bisa melakukan penyesuaian melalui kenaikan harga pada tahun depan. Hal ini terjadi karena daya beli masyarakat masih rendah. Menurutnya kenaikan harga sebenarnya sangat mendesak karena melonjaknya biaya bahan baku dan produksi. Harga sebagian besar bahan baku yang harus diimpor mengalami kenaikan akibat kendala rantai pasok dan melemahnya nilai tukar rupiah. “Beberapa komoditas masih ada gangguan dan itu yang menjadi tantangan kami pada tahun depan. Kami sudah berdiskusi dengan teman-teman industri mereka tidak berani menaikkan harga pada tahun depan karena bisa semakin tertekan pertumbuhannya,” kata Adhi. 

Penyebab lemahnya daya beli terjadi lantaran terus melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, energi, dan transportasi. Sehingga masyarakat kelas menengah yang merupakan pangsa pasar utama produk pangan industri menekan biaya untuk konsumsi. Di sisi lain, untuk mengatasi permasalahan ini, Adhi Lukman mendesak pemerintah untuk tidak mengeluarkan aturan yang semakin memberatkan pelaku usaha. Tujuannya agar tidak ada biaya tambahan dalam proses produksi. Tidak hanya itu, efisiensi biaya produksi dan distribusi juga terus dilakukan pengusaha di industri pangan. Langkah ini terus dilakukan untuk menjaga margin. “Pemerintah pusat dan daerah jangan mengeluarkan aturan yang aneh-aneh. Kami sudah cukup berat dengan tantangan yang ada saat ini,” ujarnya. 

Adhi Lukman menambahkan, dari sisi pertumbuhan industri pangan diperkirakan sampai akhir tahun ini bisa menyentuh angka 4%. Perkiraan merupakan angka yang sangat realistis dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian yang berfluktuasi. “Pada kuartal III tahun ini, pertumbuhannya hanya 3,28% padahal pertumbuhan ekonominya 4,9%. Biasanya pertumbuhan industri pangan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasonal,” pungkasnya.