08119322626/27    gapmmi@cbn.net.id  

×
Beranda / Publikasi / Artikel

Sinergi GAPMMI dan Fi Asia Indonesia 2026: Akselerasi Reformulasi Pangan Nasional yang Lebih Menyehatkan

Upaya mendorong transformasi industri pangan Indonesia menuju produk yang lebih sehat tanpa mengorbankan cita rasa menjadi fokus utama dalam Seminar GAPMMI bersama Food Ingredients Asia Indonesia (Fi Asia) 2026 yang diselenggarakan pada 16 September 2026 di Sumatra Room, Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta. Seminar bertajuk “Reformulation Solutions for Better Nutrition and Great Taste in Indonesia” mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah masa depan inovasi pangan nasional.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh GAPMMI ini menghadirkan narasumber dari Badan POM RI, IPB University, serta PT Jerindo Sari Utama. Ketiganya memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai tantangan dan peluang reformulasi pangan di tengah meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk yang lebih bergizi, aman, dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Latifah, S.Si, Apt., M.K.M. pejabat di lingkungan Direktorat Standardisasi Pangan Olahan Badan POM RI, menegaskan bahwa pengembangan inovasi pangan harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi keamanan pangan. BPOM terus memperkuat kerangka regulasi terkait bahan tambahan pangan (BTP), perisa, serta pemanfaatan bahan alam inovatif guna mendukung hilirisasi inovasi pangan nasional. Selain itu, BPOM juga tengah melakukan revisi sejumlah regulasi untuk mengakomodasi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri pangan yang semakin dinamis.

Dari sisi akademik, Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan serta SEAFAST Center IPB University menyoroti berbagai tren global yang tengah membentuk arah pengembangan produk pangan modern. Menurutnya, industri pangan dunia bergerak menuju formulasi pangan fungsional, penguatan klaim kesehatan, penggunaan protein nabati, praktik keberlanjutan melalui upcycling, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan produk. Namun demikian, keberhasilan suatu inovasi tetap bertumpu pada kemampuan menghadirkan pengalaman sensori yang disukai konsumen. “Konsumen tidak ingin berkompromi antara manfaat kesehatan dan kenikmatan rasa,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam seminar tersebut.

Sementara itu, dari sisi industri ingredients, PT Jerindo Sari Utama bersama mitra teknologi globalnya memaparkan berbagai solusi reformulasi yang memungkinkan pengurangan gula tanpa mengurangi tingkat penerimaan konsumen. Presentasi bertajuk “Ingredients as Enablers: Elevating Food Innovation for a Healthier, More Enjoyable Future” menjelaskan bagaimana kombinasi pemanis alami seperti stevia generasi terbaru dan teknologi flavour modulation dapat membantu menciptakan produk dengan kandungan gula yang lebih rendah namun tetap mempertahankan profil rasa yang diharapkan konsumen. Paparan tersebut relevan dengan perubahan perilaku konsumen Indonesia, khususnya generasi Z dan milenial yang semakin sadar kesehatan namun tetap menginginkan cita rasa optimal. Data yang dipresentasikan menunjukkan meningkatnya minat terhadap pemanis alami, clean label, serta produk yang mendukung gaya hidup sehat. Tren ini diperkirakan akan semakin kuat sejalan dengan berkembangnya kebijakan pelabelan gizi dan upaya pengurangan konsumsi gula di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Seminar ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara regulator, dunia akademik, dan industri dalam membangun ekosistem inovasi pangan yang berdaya saing global. Melalui sinergi tersebut, Indonesia diharapkan dapat mempercepat pengembangan produk pangan yang tidak hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga menjawab kebutuhan konsumen modern akan produk yang lebih sehat, aman, berkelanjutan, dan tetap lezat. Sejalan dengan pesan penutup dari BPOM, GAPMMI diharapkan terus menjadi wadah komunikasi, edukasi, dan kolaborasi yang menjembatani pemerintah dan pelaku usaha dalam mewujudkan kemandirian serta daya saing industri pangan nasional.